Jakarta, 18 September 2026 – Cabang olahraga teqball mencatat sejarah bagi Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 setelah untuk pertama kalinya menyumbangkan medali bagi kontingen Merah Putih. Sumaya menjadi salah satu tokoh utama setelah memastikan medali dari nomor tunggal putri dengan keberhasilannya menembus partai final. Pencapaian tersebut terasa istimewa karena teqball baru pertama kali dipertandingkan secara resmi dalam program Asian Games. Indonesia bahkan berhasil membawa pulang lebih dari satu medali dari cabang olahraga yang relatif baru berkembang di Tanah Air tersebut. Selain Sumaya, Yoga Ardika Putra turut menyumbangkan medali perunggu dari nomor tunggal putra. Hasil ini membuka lembaran baru dalam perjalanan teqball Indonesia di kompetisi multievent Asia.
Perjalanan Sumaya menuju podium berlangsung melalui persaingan ketat sejak fase penyisihan. Pada Grup B, ia mengalahkan Dandal Kamar dari Lebanon dengan skor 12-9 dan 12-11 sebelum kalah dari atlet Myanmar Wai Khin Hnin dengan skor 10-12 dan 8-12. Sumaya kemudian bangkit ketika menghadapi Aidana Otorbaeva dari Kirgizstan dan menang melalui tiga gim 6-12, 12-6, 12-6. Hasil tersebut membuatnya menempati posisi kedua grup sehingga harus melanjutkan perjuangan melalui babak repechage. Pada fase tersebut, Sumaya menyingkirkan wakil Kamboja DY Koemyean dengan skor 12-8 dan 12-7. Kemenangan itu mengantarkannya ke semifinal tunggal putri.
Di semifinal, Sumaya berhadapan dengan atlet India Quimcy Joaquim Dsouza dalam pertandingan yang berlangsung tiga gim. Atlet Indonesia tersebut kehilangan gim pertama dengan skor 7-12 sebelum membalikkan keadaan melalui kemenangan 12-9 pada gim kedua. Sumaya kembali mendapat tekanan pada gim penentuan dan sempat tertinggal 3-7. Namun, ia mampu mengejar dan mencetak sembilan poin untuk menutup pertandingan dengan kemenangan 12-7. Hasil tersebut memastikan Sumaya tampil di final sekaligus menjamin setidaknya medali perak bagi Indonesia. Keberhasilan itu menjadi tonggak bersejarah karena Indonesia untuk pertama kalinya memperoleh medali Asian Games dari nomor tunggal putri teqball.
Pada pertandingan final, Sumaya kembali bertemu Wai Khin Hnin yang sebelumnya mengalahkannya pada fase grup. Pertandingan berlangsung ketat hingga harus diselesaikan dalam tiga gim. Sumaya mampu merebut gim pembuka dengan skor 12-10, tetapi lawannya bangkit dan mengambil dua gim berikutnya dengan skor 12-8 dan 12-9. Hasil tersebut membuat Sumaya mengakhiri kompetisi dengan medali perak. Meski belum berhasil membawa pulang emas, pencapaiannya menjadi hasil penting mengingat ia baru sekitar dua tahun menekuni teqball setelah sebelumnya memiliki latar belakang sepak takraw. Adaptasinya terhadap karakter permainan teqball membawanya langsung bersaing di level tertinggi Asia.
Indonesia juga mendapatkan medali dari sektor putra melalui Yoga Ardika Putra yang meraih perunggu pada nomor tunggal putra. Prestasi Yoga memperkuat catatan Indonesia dalam debut teqball pada Asian Games 2026. Dua medali dari nomor tunggal putra dan putri memperlihatkan bahwa atlet Indonesia mampu bersaing meskipun teqball belum memiliki sejarah panjang di dalam negeri. Cabang olahraga ini menggabungkan keterampilan mengontrol bola dengan teknik yang memiliki kemiripan dengan sepak bola dan sepak takraw, tetapi dimainkan menggunakan meja melengkung khusus. Karakter tersebut memberikan ruang bagi atlet dengan dasar kemampuan sepak takraw untuk melakukan adaptasi. Pengalaman Sumaya menjadi salah satu contoh bagaimana kemampuan dari cabang olahraga sebelumnya dapat dikembangkan untuk menghadapi kompetisi teqball.
Pencapaian pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi modal penting bagi pengembangan teqball Indonesia setelah cabang tersebut menjalani debutnya dalam pesta olahraga terbesar Asia. Medali Sumaya dan Yoga menunjukkan adanya potensi atlet nasional untuk berkembang apabila mendapatkan kompetisi, pembinaan dan kesempatan bertanding secara berkelanjutan. Pengalaman menghadapi atlet-atlet Asia juga memberikan gambaran mengenai aspek teknis yang masih perlu ditingkatkan menuju turnamen internasional berikutnya. Regenerasi atlet dan perluasan fasilitas latihan akan menjadi bagian penting dalam menjaga perkembangan cabang ini. Prestasi pada edisi 2026 sekaligus menjadi titik awal terbentuknya catatan medali Indonesia dalam sejarah teqball Asian Games. Dari cabang yang masih relatif baru, teqball kini berhasil memberikan kontribusi nyata bagi kontingen Merah Putih.