Washington, 2 Mei 2026 – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menuai sorotan setelah melontarkan pernyataan kontroversial terkait operasi militer negaranya terhadap Iran. Dalam sebuah pidato, ia menyebut tindakan Angkatan Laut AS yang menyita kapal-kapal Iran “seperti bajak laut”.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Trump menjelaskan operasi blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di tengah konflik yang sedang berlangsung. Ia bahkan menyebut penyitaan kapal dan kargo, termasuk minyak, sebagai langkah yang memberikan keuntungan strategis.
“Kami mengambil alih kapal, kargo, dan minyak. Ini seperti bajak laut, tetapi kami serius,” ujar Trump dalam pidatonya.
Komentar tersebut langsung memicu reaksi dari berbagai pihak. Sejumlah pengamat menilai pernyataan tersebut berpotensi memperkeruh situasi geopolitik yang sudah memanas, terutama di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, langkah penyitaan kapal oleh AS disebut sebagai bagian dari strategi tekanan terhadap Iran, termasuk dalam upaya membatasi distribusi minyak dan memperlemah ekonomi negara tersebut.
Namun, tindakan tersebut juga menuai kritik dari komunitas internasional. Beberapa pihak menilai penyitaan kapal di perairan internasional dapat melanggar hukum maritim dan berisiko meningkatkan ketegangan global.
Konflik antara AS dan Iran sendiri terus berkembang, dengan dampak yang meluas hingga sektor energi global. Jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu titik krusial yang terdampak, mengingat perannya dalam distribusi minyak dunia.
Pernyataan Trump ini kembali menegaskan pendekatan keras yang diambil pemerintah AS dalam menghadapi Iran. Meski demikian, sejumlah pihak menyerukan agar kedua negara menempuh jalur diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.