Paris, 3 Oktober 2026 – Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis terus meluas dan diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan di sejumlah kota. Sekitar 400 sekolah dan institusi pendidikan ditutup pada Jumat (2/10/2026), sementara lebih dari 2.000 orang telah ditangkap sejak aksi dimulai. Protes yang awalnya berpusat di kawasan Paris kini menyebar ke berbagai wilayah seperti Marseille, Strasbourg, Rennes dan Toulouse. Pemerintah Prancis menghadapi tekanan untuk merespons tuntutan pelajar sekaligus mengendalikan kekerasan yang muncul di sejumlah lokasi.
Aksi tersebut bermula dari ketidakpuasan pelajar terhadap kondisi pendidikan, termasuk kekurangan tenaga pengajar, kelas yang dinilai terlalu padat serta kondisi sejumlah gedung sekolah yang membutuhkan perbaikan. Pelajar juga mempersoalkan panjangnya waktu belajar dan meminta tambahan sumber daya untuk sektor pendidikan. Gerakan yang berlangsung sekitar 10 hari itu kemudian berkembang menjadi aksi nasional. Pada Jumat, Kementerian Pendidikan Prancis mencatat 564 institusi pendidikan mengalami aksi atau gangguan sepanjang hari.
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray sebelumnya mengumumkan sedikit lebih dari 400 sekolah dan institusi pendidikan akan ditutup. Sebagian sekolah tidak dapat beroperasi karena sistem keselamatan kebakaran mengalami kerusakan, sedangkan sejumlah lainnya ditutup setelah pegawai menjadi sasaran tindakan kekerasan. Pembelajaran bagi siswa di sekolah yang ditutup dialihkan secara jarak jauh. Geffray juga meminta orang tua memperhatikan keselamatan anak karena situasi di sekitar beberapa lokasi demonstrasi telah memburuk.
Situasi keamanan meningkat setelah bentrokan terjadi di berbagai kota. Gas air mata digunakan polisi di Strasbourg, sementara kembang api diarahkan ke barisan aparat di Marseille dan tempat sampah dibakar di Rennes. Di kawasan Pantin dekat Paris, sejumlah demonstran membakar benda di jalan dan melemparkan petasan ke arah polisi antihuru-hara. Pemerintah mengatakan sebagian aksi telah berkembang dari demonstrasi mengenai pendidikan menjadi kekerasan perkotaan, meski tuntutan awal pelajar mengenai kondisi sekolah tetap diakui sebagai persoalan yang perlu dibahas.
Jumlah penangkapan juga meningkat tajam. Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat 1.949 orang ditangkap hanya pada Kamis, sedangkan Menteri Kehakiman Gerald Darmanin menyebut total penangkapan sejak aksi dimulai telah mencapai sekitar 2.000 orang. Sebagian besar mereka yang ditangkap disebut masih berusia muda. Sebanyak 305 polisi dan anggota gendarmerie dilaporkan terluka pada Kamis, sementara puluhan pegawai sekolah juga mengalami cedera selama rangkaian kerusuhan.
Kerusakan juga dilaporkan terjadi pada sejumlah fasilitas pendidikan. Lebih dari 100 sekolah menengah mengalami kerusakan serius, sementara kebakaran terjadi di beberapa sekolah di Paris, Nantes dan Marseille. Data pemerintah menyebut setidaknya 170 pelajar serta 65 pegawai sektor pendidikan, termasuk 40 kepala sekolah, mengalami luka sejak aksi berlangsung. Di tengah kondisi tersebut, kelompok hak asasi manusia turut menyampaikan kekhawatiran mengenai penggunaan kekuatan terhadap demonstran yang sebagian masih berstatus anak di bawah umur.
Pemerintah Prancis kini berupaya membuka dialog untuk meredakan ketegangan. Geffray dijadwalkan bertemu organisasi pelajar, serikat pendidikan dan perwakilan orang tua guna membahas tuntutan mengenai kondisi sekolah. Pada saat bersamaan, aparat keamanan tetap dikerahkan untuk mencegah kerusuhan di sekitar sekolah yang menjadi pusat aksi. Perkembangan tersebut membuat persoalan pendidikan yang awalnya memicu demonstrasi berkembang menjadi tantangan keamanan nasional, dengan pemerintah harus mencari keseimbangan antara menjawab tuntutan pelajar dan mencegah kekerasan semakin meluas.