Jakarta, 1 Oktober 2026 – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis (1/10/2026) dengan pelemahan tajam sebesar 1,02 persen ke level 6.009. Tekanan terhadap indeks berlangsung di tengah perhatian pelaku pasar terhadap perkembangan politik domestik setelah perombakan atau reshuffle Kabinet Merah Putih. Pergerakan saham berkapitalisasi besar ikut memberikan tekanan terhadap indeks sepanjang sesi perdagangan. Investor juga masih mencermati sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global. Kombinasi berbagai faktor tersebut membuat aktivitas perdagangan saham domestik cenderung berada di zona negatif hingga penutupan.
Pergerakan IHSG sejak pembukaan menunjukkan tekanan jual yang cukup kuat. Indeks sempat bergerak fluktuatif, tetapi belum mampu mempertahankan momentum untuk kembali ke zona hijau. Sejumlah sektor mengalami koreksi seiring investor melakukan penyesuaian portofolio setelah munculnya perkembangan terbaru dari pemerintah. Pelemahan juga berlangsung ketika pasar masih menimbang prospek kebijakan ekonomi dan fiskal setelah perubahan komposisi kabinet. Kondisi tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam mengambil posisi baru.
Reshuffle kabinet menjadi salah satu sentimen domestik yang diperhatikan karena pasar berusaha membaca arah kebijakan pemerintah setelah pergantian sejumlah pejabat. Bagi pelaku pasar modal, kesinambungan kebijakan ekonomi, pengelolaan fiskal, investasi, serta kepastian regulasi menjadi faktor penting dalam menentukan sentimen. Perubahan dalam jajaran pemerintahan dapat mendorong pelaku pasar melakukan evaluasi terhadap ekspektasi kebijakan dalam jangka pendek maupun menengah. Namun, pergerakan IHSG tidak hanya dipengaruhi faktor politik karena kondisi bursa global, nilai tukar rupiah, dan pergerakan harga komoditas juga berperan. Investor karena itu masih menunggu sinyal lebih jelas mengenai arah kebijakan setelah reshuffle.
Tekanan pada perdagangan saham juga berlangsung di tengah dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Perubahan nilai tukar menjadi perhatian terutama bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan impor, utang dalam valuta asing, maupun ketergantungan terhadap bahan baku dari luar negeri. Di sisi lain, saham-saham yang berorientasi ekspor dapat memiliki sensitivitas berbeda terhadap pelemahan atau penguatan rupiah. Kondisi pasar global juga masih dipengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Faktor eksternal tersebut membuat investor asing maupun domestik lebih selektif dalam menempatkan dana.
Koreksi IHSG hingga kembali mendekati level psikologis 6.000 membuat pergerakan indeks pada perdagangan berikutnya menjadi perhatian. Level tersebut dapat menjadi salah satu area yang dipantau pelaku pasar untuk melihat kekuatan permintaan setelah tekanan jual pada Kamis. Apabila tekanan berlanjut, volatilitas berpotensi tetap tinggi terutama pada saham dengan bobot besar terhadap indeks. Sebaliknya, aksi beli pada saham yang telah mengalami koreksi dapat membantu menahan penurunan lebih dalam. Pergerakan selanjutnya juga akan sangat dipengaruhi respons investor terhadap perkembangan kebijakan pemerintah.
Pelaku pasar diperkirakan tetap mencermati komunikasi pemerintah mengenai agenda ekonomi setelah perubahan kabinet. Kepastian mengenai kelanjutan program pembangunan, pengelolaan anggaran, investasi, serta kebijakan untuk menjaga daya beli dapat memengaruhi persepsi terhadap prospek perekonomian. Investor juga akan memperhatikan berbagai indikator ekonomi domestik yang dirilis dalam beberapa waktu mendatang. Data inflasi, aktivitas manufaktur, neraca perdagangan, serta pergerakan rupiah dapat menjadi katalis tambahan bagi pasar saham. Sentimen global dari Amerika Serikat dan pergerakan harga komoditas juga tetap menjadi faktor yang perlu diperhitungkan.
Dengan penutupan di level 6.009, IHSG memasuki perdagangan berikutnya dalam posisi yang cukup dekat dengan batas psikologis 6.000. Investor diperkirakan masih akan bersikap selektif sambil menunggu perkembangan baru dari pemerintah dan pasar global. Volatilitas jangka pendek dapat bertahan apabila ketidakpastian terhadap arah kebijakan dan kondisi eksternal belum mereda. Di sisi lain, fundamental emiten serta prospek masing-masing sektor tetap menjadi pertimbangan dalam menentukan keputusan investasi. Pergerakan IHSG setelah koreksi 1,02 persen akan menjadi indikator awal untuk melihat respons pasar terhadap reshuffle kabinet dan perkembangan ekonomi terbaru.