Jakarta, 26 September 2026 –
Tim renang Indonesia harus mengubur kesempatan tampil pada final nomor 4×100 meter gaya ganti estafet putri Asian Games 2026 Aichi-Nagoya setelah memutuskan mundur dari perlombaan. Keputusan tersebut diambil menyusul kondisi Adellia, perenang yang bertugas pada gaya dada, yang mengalami kram pada paha kanan dan kiri. Kondisinya tidak memungkinkan untuk kembali turun bersama tiga rekannya pada pertandingan final di Tokyo Aquatics Centre, Tokyo, Jumat, 25 September 2026. Situasi tersebut terasa semakin berat karena kuartet Merah Putih sebelumnya sudah berjuang keras untuk mendapatkan tiket ke babak perebutan medali. Setelah keputusan diumumkan, dukungan mengalir kepada para perenang Indonesia dari masyarakat hingga sejumlah figur publik.
Indonesia sebelumnya berhasil lolos ke final setelah mencatatkan waktu 4 menit 15,90 detik pada babak kualifikasi. Catatan tersebut menempatkan Indonesia di posisi kelima heat kedua sekaligus peringkat kedelapan secara keseluruhan. Kuartet Merah Putih diperkuat Flairene Candra yang turun pada gaya punggung, Adellia pada gaya dada, Nadia Aisha Nurazmi pada gaya kupu-kupu, serta Adelia Chantika Aulia pada gaya bebas. Mereka harus bersaing dengan sejumlah negara kuat seperti China, Korea Selatan, Hong Kong, Singapura, dan Mongolia selama babak penyisihan. Keberhasilan menempati delapan besar membuat Indonesia berhak melanjutkan perjuangan ke final sebelum kondisi Adellia akhirnya memaksa tim mengundurkan diri.
Adellia kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat Indonesia, pencinta olahraga renang, serta ketiga rekannya karena kondisinya membuat tim tidak dapat tampil di final. Akuatik Indonesia menjelaskan bahwa kram terjadi pada paha kanan sekaligus paha kiri sehingga keselamatan dan kondisi atlet menjadi pertimbangan utama. Keputusan mundur tentunya tidak mudah karena kesempatan tampil di final Asian Games telah diperoleh melalui perjuangan bersama sejak babak kualifikasi. Namun, memaksakan atlet bertanding dalam kondisi tersebut berisiko memperburuk masalah yang dialaminya. Tempat Indonesia pada pertandingan final kemudian diberikan kepada Makau yang sebelumnya membukukan waktu 4 menit 19,84 detik dalam kualifikasi heat pertama.
Kabar mundurnya tim estafet putri kemudian mendapatkan respons luas di media sosial. Dukungan diberikan kepada Adellia dan seluruh anggota tim agar tidak menyalahkan diri sendiri setelah kesempatan tampil di final harus dilepaskan karena kondisi fisik. Sejumlah figur publik dan atlet Indonesia turut memberikan semangat, termasuk Luna Maya hingga pesenam Rifda Irfanaluthfi. Dukungan tersebut menjadi penting karena keputusan mundur terjadi ketika para atlet sudah berada sangat dekat dengan kesempatan bersaing memperebutkan medali. Situasi yang dialami Adellia juga mengingatkan bahwa kondisi kesehatan atlet tetap menjadi prioritas di tengah tuntutan untuk menghasilkan prestasi pada kompetisi sebesar Asian Games.
Dukungan dari Rifda memiliki makna tersendiri karena pesenam Indonesia tersebut memiliki pengalaman bertanding dalam kondisi cedera pada panggung olahraga terbesar dunia. Rifda merupakan pesenam Indonesia pertama yang tampil di Olimpiade dan pernah menuntaskan penampilannya di Olimpiade Paris 2024 ketika menghadapi masalah pada meniskus serta ACL. Pengalaman itu memperlihatkan besarnya tantangan fisik dan mental yang dapat dihadapi seorang atlet ketika cedera datang di tengah kompetisi penting. Dalam perjalanan kariernya, Rifda juga beberapa kali menekankan pentingnya dukungan keluarga, pelatih, federasi, dan lingkungan sekitar bagi atlet. Dukungan kepada tim renang putri Indonesia karena itu turut mencerminkan solidaritas antaratlet ketika menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan.
Batalnya penampilan Indonesia memang membuat peluang mendapatkan medali dari nomor tersebut berakhir sebelum final dimulai. Meski demikian, keberhasilan Flairene, Adellia, Nadia, dan Chantika menembus delapan besar tetap menunjukkan kemampuan mereka bersaing dengan tim-tim kuat Asia. Indonesia bahkan mampu menyelesaikan kualifikasi dengan catatan yang cukup untuk mengamankan tiket final melalui jalur kompetitif. Pengalaman tersebut dapat menjadi bahan evaluasi penting bagi tim renang nasional untuk meningkatkan performa pada kejuaraan berikutnya. Fokus berikutnya juga tertuju pada pemulihan Adellia agar masalah pada kedua pahanya dapat ditangani dengan baik dan tidak berkembang menjadi cedera yang lebih serius.
Perjalanan tim estafet putri Indonesia di Asian Games 2026 akhirnya berhenti dengan cara yang tidak direncanakan, tetapi perjuangan mereka sejak babak penyisihan tetap mendapatkan apresiasi. Cedera merupakan bagian dari risiko olahraga prestasi dan dapat muncul ketika seorang atlet sedang berada dalam momentum penting. Dukungan yang mengalir setelah keputusan mundur menunjukkan bahwa pencapaian atlet tidak hanya dinilai dari medali, tetapi juga dari proses dan perjuangan untuk mencapai level tertinggi kompetisi. Bagi Adellia, prioritas selanjutnya adalah menjalani pemulihan sebelum kembali berlatih dan bertanding bersama tim nasional. Sementara bagi Flairene, Nadia, Chantika, serta seluruh tim renang Indonesia, pengalaman menembus final Asian Games dapat menjadi modal untuk mengejar hasil yang lebih baik pada kompetisi internasional berikutnya.