Jakarta, 22 September 2026 – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk terhadap tekanan Amerika Serikat saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-81 di New York. Pezeshkian menyampaikan sikap tersebut ketika hubungan Teheran dan Washington masih diliputi ketegangan akibat konflik yang berlangsung sejak Februari 2026. Ia menyatakan tekanan, sanksi, dan intimidasi justru akan memperkuat perlawanan masyarakat Iran. Pezeshkian juga menanggapi pernyataan Presiden AS Donald Trump yang disampaikan sehari sebelumnya. Iran, menurutnya, akan tetap mempertahankan kepentingan dan kedaulatan negaranya.
Dalam pidatonya, Pezeshkian menyatakan rakyat Iran tidak akan menundukkan kepala ataupun bertekuk lutut di tengah meningkatnya tekanan dari Washington. Ia menilai ancaman terhadap Iran tidak akan membuat pemerintahnya meninggalkan posisi yang selama ini dipertahankan. Presiden Iran itu juga menegaskan negaranya memiliki hak untuk mempertahankan diri apabila menghadapi serangan. Sikap tersebut disampaikan sebagai tanggapan atas pernyataan keras Trump mengenai masa depan hubungan kedua negara. Meski demikian, Pezeshkian tidak sepenuhnya menutup kemungkinan penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Pezeshkian juga menyoroti dampak konflik terhadap masyarakat sipil Iran. Dalam pidatonya, ia memperlihatkan sejumlah foto yang menurut pemerintah Iran menunjukkan korban serangan terhadap sekolah dan fasilitas lainnya. Pezeshkian menolak tudingan bahwa Iran menjadi pihak yang memulai konflik dan menyatakan negaranya melakukan tindakan untuk mempertahankan diri. Pemerintah Iran menuding Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas sejumlah serangan yang menyebabkan korban jiwa. Sejumlah klaim mengenai lokasi dan dampak serangan tersebut masih menjadi bagian dari perbedaan narasi antara pihak-pihak yang terlibat konflik.
Selain persoalan keamanan, Pezeshkian membahas posisi Iran mengenai Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran strategis dunia. Ia menegaskan Iran tidak akan menerima situasi ketika jalur tersebut digunakan untuk mendukung tindakan yang dianggap mengancam negaranya. Ketegangan di kawasan Teluk telah membuat keamanan pelayaran dan pasokan energi menjadi perhatian internasional. Selat Hormuz memiliki peranan penting dalam distribusi minyak dan gas sehingga perkembangan keamanan di kawasan dapat berdampak luas. Iran menyatakan kepentingan nasionalnya di jalur tersebut harus tetap dihormati.
Program nuklir Iran turut menjadi salah satu bagian penting dalam pidato Pezeshkian. Ia menegaskan Teheran tetap mempertahankan hak mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai. Pada saat yang sama, pemerintah Iran menyatakan tidak berniat mengembangkan senjata nuklir. Persoalan tersebut selama bertahun-tahun menjadi salah satu sumber ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat. Amerika Serikat terus menuntut adanya jaminan bahwa program nuklir Iran tidak diarahkan pada pengembangan senjata.
Walaupun menyampaikan sikap keras terhadap tekanan Washington, Pezeshkian menyatakan Iran masih bersedia menempuh dialog, diplomasi, dan negosiasi. Menurutnya, pembicaraan hanya dapat berlangsung apabila dilakukan tanpa ancaman maupun penggunaan kekerasan. Pernyataan tersebut menunjukkan Teheran tetap menyediakan ruang bagi kemungkinan penyelesaian politik di tengah konflik. Namun, perbedaan posisi kedua negara mengenai keamanan regional, sanksi, dan program nuklir masih menjadi hambatan besar. Belum terdapat kepastian apakah komunikasi diplomatik akan berkembang menjadi perundingan formal.
Pidato Pezeshkian berlangsung di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap konflik di Timur Tengah. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat menjadi salah satu isu utama yang dibahas dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB tahun ini. Pezeshkian menggunakan forum tersebut untuk menegaskan bahwa negaranya akan mempertahankan diri sekaligus tetap membuka pintu diplomasi. Washington dan Teheran masih memiliki perbedaan mendasar mengenai sejumlah persoalan strategis. Perkembangan setelah Sidang PBB akan menjadi perhatian karena setiap perubahan hubungan kedua negara dapat memberikan dampak terhadap keamanan regional dan stabilitas energi global.