Palembang, 15 September 2026 – Program cetak sawah di Sumatera Selatan terus berjalan sesuai rencana sebagai bagian dari upaya memperluas lahan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional. Pelaksanaan program dilakukan di sejumlah kabupaten yang memiliki potensi lahan untuk dikembangkan menjadi kawasan produksi padi baru. Pemerintah daerah bersama jajaran pertanian, TNI, kelompok tani, dan unsur terkait terus melakukan koordinasi untuk memastikan tahapan pembangunan lahan dapat diselesaikan secara optimal. Selain menambah luas baku sawah, program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi gabah Sumatera Selatan yang selama ini menjadi salah satu daerah penghasil beras utama nasional. Pengembangan sawah baru juga disertai penyiapan infrastruktur pengairan dan penataan lahan agar dapat segera dimanfaatkan petani setelah pekerjaan konstruksi selesai. Pemerintah berharap seluruh target dapat dicapai sesuai jadwal sehingga lahan baru memberikan tambahan produksi secara nyata.
Pelaksanaan cetak sawah di Sumatera Selatan bukan merupakan program yang sepenuhnya baru karena kegiatan serupa telah dilakukan pada tahun sebelumnya. Sekitar 6.000 hektare sawah baru telah dikembangkan dan tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir, Muara Enim, dan Lahat. Sebagian lahan tersebut telah memasuki tahap penanaman dengan menggunakan varietas padi yang disesuaikan dengan karakter wilayah. Pada penanaman awal, produktivitas sejumlah kawasan mampu mencapai sekitar lima ton gabah kering giling per hektare dan masih memiliki peluang untuk ditingkatkan pada musim berikutnya. Pengalaman tersebut menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan program pada 2026. Evaluasi terhadap pengolahan lahan, pengairan, kesiapan petani, dan kebutuhan sarana produksi terus dilakukan agar sawah baru dapat menghasilkan produksi secara berkelanjutan.
Pemerintah tidak hanya mengejar penambahan luas lahan, tetapi juga memastikan sawah yang telah dicetak dapat segera memasuki siklus produksi. Tahapan tersebut menjadi penting karena keberhasilan program tidak cukup diukur berdasarkan jumlah hektare yang selesai dibuka. Lahan membutuhkan jaringan air yang memadai, akses menuju kawasan produksi, benih, pupuk, alat dan mesin pertanian, serta petani yang siap mengelolanya. Apabila salah satu unsur tersebut belum tersedia, sawah baru berpotensi tidak langsung memberikan tambahan produksi. Karena itu, koordinasi antara pembangunan fisik dan kesiapan budidaya menjadi perhatian dalam pelaksanaan di lapangan. Pemerintah juga mendorong penanaman dilakukan secara bertahap pada lahan yang telah memenuhi persyaratan sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih cepat.
Banyuasin menjadi salah satu kawasan strategis dalam pengembangan pertanian Sumatera Selatan karena memiliki bentang lahan rawa pasang surut yang luas. Pemerintah daerah terus mempercepat pengerjaan sawah baru di sejumlah lokasi yang memiliki potensi untuk dikembangkan. Karakter lahan rawa membutuhkan pengelolaan berbeda dibandingkan sawah irigasi biasa karena ketinggian air sangat dipengaruhi kondisi saluran dan pasang surut. Penataan tata air menjadi pekerjaan penting agar lahan tidak mengalami kelebihan air pada periode tertentu maupun kekurangan air ketika memasuki musim kering. Infrastruktur saluran juga harus mampu mendukung proses pengolahan tanah dan distribusi air menuju hamparan pertanian. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan rawa dapat memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan produksi padi daerah.
Musi Banyuasin juga menjadi salah satu wilayah yang mendapatkan perhatian dalam perluasan kawasan persawahan. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mendorong pemanfaatan lahan yang selama ini kurang produktif agar dapat dikembangkan menjadi kawasan pertanian. Salah satu rencana berada di Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais, dengan potensi cetak sawah sekitar 977 hektare. Pemanfaatan lahan tersebut memiliki dua kepentingan sekaligus, yakni meningkatkan produksi pangan dan mengurangi keberadaan kawasan terbengkalai yang berpotensi mengalami kebakaran pada periode kering. Lahan yang dikelola secara rutin memiliki sistem pengawasan dan pengairan yang lebih terjaga dibandingkan kawasan yang dibiarkan tanpa aktivitas produktif. Pengembangan tersebut diharapkan juga membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Keterlibatan TNI menjadi salah satu unsur pendukung dalam pelaksanaan program cetak sawah di Sumatera Selatan. Korem 044/Garuda Dempo kembali terlibat dalam kegiatan cetak sawah rakyat setelah mendukung program serupa pada periode sebelumnya. Koordinasi dilakukan bersama dinas pertanian dan berbagai instansi untuk memastikan pekerjaan konstruksi berlangsung transparan, akuntabel, dan sesuai kebutuhan lapangan. Dukungan personel dapat membantu percepatan pekerjaan terutama pada kawasan yang memiliki cakupan cukup luas. Namun, setelah pekerjaan fisik selesai, pengelolaan lahan tetap membutuhkan keterlibatan aktif kelompok tani. Keberlanjutan produksi sangat bergantung pada kemampuan petani menjalankan budidaya secara konsisten setelah sawah diserahkan untuk dimanfaatkan.
Program cetak sawah juga menjadi bagian dari strategi Sumatera Selatan meningkatkan produksi padi di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca. Pemerintah daerah sebelumnya menargetkan produksi padi dapat meningkat hingga sekitar empat juta ton gabah kering giling pada 2026, setelah produksi tahun sebelumnya berada di kisaran 3,6 juta ton. Target tersebut membutuhkan peningkatan produktivitas lahan yang telah tersedia sekaligus tambahan produksi dari kawasan baru. Cetak sawah karena itu berjalan berdampingan dengan optimalisasi lahan pertanian eksisting. Pemerintah juga mendorong gerakan tanam dan penguatan pengairan agar potensi lahan dapat digunakan secara maksimal. Peningkatan produksi diharapkan memperkuat posisi Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah penyangga pangan nasional.
Ancaman musim kering menjadi tantangan yang harus diperhitungkan dalam pengembangan kawasan pertanian baru. Sawah yang telah selesai dicetak membutuhkan sistem tata air yang mampu mempertahankan ketersediaan air ketika curah hujan menurun. Pemerintah perlu memastikan saluran primer, sekunder, maupun jaringan pendukung dapat berfungsi sesuai karakter lahan. Pompanisasi dapat digunakan pada wilayah tertentu apabila sumber air tersedia tetapi tidak dapat mengalir secara alami menuju persawahan. Petani juga perlu mendapatkan pendampingan mengenai pola tanam yang sesuai dengan kondisi iklim agar risiko kerugian dapat ditekan. Dengan perencanaan yang tepat, sawah baru diharapkan tetap produktif meskipun menghadapi perubahan cuaca sepanjang tahun.
Keberhasilan program juga akan memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat pedesaan. Penambahan lahan produktif dapat meningkatkan kebutuhan tenaga kerja untuk pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen, hingga pengangkutan hasil. Aktivitas tersebut kemudian dapat menggerakkan usaha penggilingan, perdagangan gabah, penyediaan sarana produksi, serta berbagai layanan pendukung pertanian. Petani yang sebelumnya hanya mengelola kebun atau lahan kurang produktif juga memiliki kesempatan memperoleh sumber pendapatan tambahan. Namun, manfaat ekonomi tersebut baru dapat berlangsung secara berkelanjutan apabila produktivitas lahan mampu dipertahankan. Karena itu, pendampingan setelah proses cetak sawah selesai memiliki posisi sama pentingnya dengan pembangunan fisik.
Berjalannya program cetak sawah di Sumatera Selatan sesuai rencana menjadi bagian penting dari strategi pemerintah memperkuat kapasitas produksi pangan dalam jangka panjang. Pengalaman pengembangan sekitar 6.000 hektare pada periode sebelumnya menjadi modal untuk memperluas program sekaligus memperbaiki berbagai aspek teknis yang masih membutuhkan penyempurnaan. Pemerintah daerah, TNI, jajaran pertanian, dan kelompok tani terus diarahkan menjaga koordinasi mulai dari penataan lahan hingga proses penanaman. Pengembangan di Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, serta sejumlah wilayah potensial lainnya diharapkan menghasilkan tambahan produksi yang dapat memperkuat kebutuhan pangan daerah dan nasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap hektare sawah baru tidak berhenti pada tahap pembangunan, tetapi benar-benar produktif dan dikelola secara berkelanjutan. Jika target tersebut dapat diwujudkan, perluasan sawah akan menjadi salah satu faktor penting dalam mempertahankan Sumatera Selatan sebagai daerah produksi beras utama sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.